herusastro

boyongan ke http://herusastro.blogspot.com/

Sate Kere Mbah Yem

Hidangan sate sebenarnya bukan makanan khas Solo. Tapi untuk sate enak yang satu ini memang khas Solo. Sate kere namanya.

Kenapa disebut Sate Kere? Karena  Sate Kere anda akan dapat menjumpai sate tempe gembus (yaitu tempe yang dibuat dari ampas kedele sisa pembuatan tahu), disamping daging dan jeroan sapi (paru, limpa, hati, iso, torpedo, ginjal, babat, iso daging sapi). Namun, biasanya tempe gembus-nya lebih dominan. Karena itu, makanan tersebut kemudian disebut sate kere (satenya orang miskin).

Mbah Yem adalah salah satu penjual sate yang sudah puluhan tahun menjajakan sate kere dengan berkeliling di sekitar Pasar Kembang Solo (nggak pake grobak tapi dengan digendong).

Mbah Yem dan Sate kere-nya

Mbah Yem dan Sate kere-nya

Sate mbah Yem (Rp. 5000,-)

Sate mbah Yem (Rp. 5000,-)

Rasa yang khas membedakan sate mbah Yem dengan sate kere lainnya. Manis, gurih dan pedas sangat terasa. Untuk harganya nggak mahal, sepuluh tusuk sate jerohan sapi dihargai Rp. 6000,- , Sepuluh tusuk sate tempe gembus dihargai Rp. 3000,- dan satu bungkus ketupat dihargai Rp. 750,-.

Kalo temen2 ingin segera menikmati sate ini, mbah Yem biasanya mangkal di dekat rumahnya yaitu di pertigaan kemlayan yaitu di Jl. Golek Notodiningratan,  kemlayan pada jam 10.00 – 12.30 WIB,  selebihnya itu mbah Yem bisa di temui di sekitar Pasar Kembang Solo.

Kalo kesulitan cari mbah Yem, ada alternatif untuk menikmai sate ini yaitu di Warung Yu Rebi di daerah Penumping dekat Stadion Sriwedari [tapi harganya lebih mahal dari sate mbah Yem 🙂 ]

(* Cintai makanan lokal Solo)

Iklan

Filed under: Jajan Kuliner, Mogleng2, Solo Tenan, wisata

Tingalan Jumenengan ke-4 PB XIII Hangabehi

Tingalan Jumenengan ke-4 PB XIII Hangabehi  digelar Selasa (29/7). Dalam acara Tingalan Jumenengan, Keraton juga menggelar kirab yang dimulai kurang lebih pukul 15.00 WIB.
Prosesi Tingalan Jumenengan dilaksanakan sesuai adat.
10 kereta dikeluarkan di mana satu kereta tergolong kereta baru. Kereta itu adalah kereta Garuda Putera yang digunakan untuk menyambut tamu kehormatan.
Dalam tiga Tingalan Jumenengan sebelum ini,  kereta Garuda Putera belum pernah digunakan.
Sebelum Tingalan Jumenengan digelar, sebanyak 800 orang abdi dan sentana dalem diwisuda oleh Keraton Surakarta Hadiningrat.

Filed under: Solo Tenan

Antara “Maringi” dengan “Nyaosi”

Maringi atau nyaosi dalam bahasa Jawa mempunyai arti sama yaitu “Memberi”. Meskipun mempunyai arti sama tetapi mempunyai perbedaan dalam penggunaannya.

“Maringi” digunakan oleh orang tua kepada anak atau orang yang lebih muda. Contohnya nenek yang memberi kabar kepada suaminya bahwa beliau telah memberi uang kepada cucunya; “Aku bar maringi duwit nggo putuku”

“Nyaosi” kata yang digunakan oleh anak kepada orang tua. Contohnya seorang anak yang memberi uang kepada ibunya; “Ibu kulo badhe nyaosi arto dumatheng panjenengan”

Meman kalo kita perhatikan sedikit rumit.. kenapa harus seperti itu.. itulah Jawa.. Sopan santun dan rasa hormat kepada sesama harus ditaati. Bangga juga jadi orang Jawa… he ehe he

Filed under: Solo Tenan

TWITTERKU

I’m a member of:

TANGGALAN

September 2017
S S R K J S M
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Blog Stats

  • 9,388 hits

Klik tertinggi

  • Tidak ada